DUKUNG SWASEMBADA DAGING NASIONAL, KELTAN USAHA MURNI KEMBANGKAN POLA INTEGRASI SAPI DAN SAWIT SECARA TERPADU

DUKUNG SWASEMBADA DAGING NASIONAL, KELTAN USAHA MURNI KEMBANGKAN POLA INTEGRASI SAPI DAN SAWIT SECARA TERPADU. DHARMASRAYA, Distan Media Center - Dalam rangka peningkatan optimalisasi lahan pertanian, pemerintah gencar melakukan serangkaian program intensifikasi melalui diversifikasi pertanian dengan pola integrasi. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa pola integrasi dapat diartikan dengan tumpang sari, dimana dalam suatu pengelolaan usahatani pada lahan yang sama diusahakan 2 atau lebih komoditi dengan yang tidak berdampak negatif satu sama lain dan menguntungkan (mutualisme). Beberapa pola yang dikembangkan oleh petani pada tanaman pangan seperti jagung-kacang tanah, jagung kedele dan sebagainya, akhir-akhir ini untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit juga telah dikembangkan pola integrasi kelapa sawit -jagung dan kelapa sawit -sapi. Mengingat potensi lahan perkebunan kelapa sawit yang cukup dominan di Kabupaten Dharmasraya, Dinas Pertanian terus mendorong pola sawit sapi ini terutama dilokasi sentra perkebunan sawit rakyat. Topografi daerah yang relatif datar yang didukung oleh sumber air yang cukup memadai, disinyalir sangat mendukung pola ini dan mulai digandrungi oleh masyarakat luas. Panen sawit melimpah dan sapi berkembang biak bahwa pengolahan kotoran ternak dan urine juga bisa dikomersilkan, menjadikan alasan dari beberapa kelompok tani untuk menekuni usaha ini dengan serius. Adalah kelompok tani Usaha Murni di kenagarian Koto Gadang Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat telah merasakan manfaat dan keuntungan dengan pola integrasi terpadu sawit dan sapi ini. Kelompok tani yang berdiri sejak tahun 2010 tersebut, telah berhasil mengembangkan sapi dan olahan pupuk organiknya untuk konsumsi sendiri bahkan sudah mampu memenuhi permintaan petani di sekitarnya. Pola pemelihaaraan sapi dilakukan dengan kandang komunal, siang dilepas dan malam dikandangkan yang dilengkapi dengan bak penampung urine serta kotoran yang dihasilkan dikumpulkan dalam suatu tempat. Bermodalkan 36 ekor sapi Bali dan 2 ekor jenis Simmental, Kelompok tani yang menerima bantuan UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik) tahun 2017 ini sudah memproduksi 10 ton pupuk kandang dan 3.000 liter urine sapi perbulannya. Untuk pupuk kandang yang siap pakai dijual dengan harga Rp. 10.000,-/karung (berat 50 kg) dan urine sapi yang difermentasi dengan EM4 seharga Rp. 1.000,-/liter. "Untuk pengolahan pupuk organik padat masih kurang maksimal karena peralatan masih terbatas. Kedepan, kita punya rencana untuk melakukan uji sampel terkait kandungan unsur yang dikandung sehingga jaminan kualitas produk dapat dipertanggungjawabkan dan konsumen lebih puas" tandas Adzan Siddky yang lebih akrab dipanggil Diky sang ketua kelompok dengan semangat. Disamping itu, dalam pemenuhan pakan ternak, kelompok petani muda ini juga melakukan pembibitan dan penanaman rumput odot seluas 4 hektar dilokasi lahannya. Didamping itu, melalui program UPSUS SIWAB tahun 2017 juga telah dihasilkan 10 ekor pedet (anakan sapi dari proses Inseminasi Buatan). Dari sisi pendampingan dan pembinaan, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Koto Besar selalu siap setiap saat, bahkan kelompok Usaha Murni adalah salah satu unggulan di wilayah kerjanya. " Keinginan untuk lebih maju sangat tergantung pada kelompok tani itu sendiri, barisan penyuluh dan Puskeswan siap untuk memberikan pendampingan dilapangan" tandas Idisda, S.PKP. Selanjutnya Koordinator BPP Koto Besar dan Penyuluh Pertanian Madya ini juga mengharapkan agar kelembagaan petani ini kuat agar dikengkapi dengan administrasi yang lengkap, tertulis dan transparan secara internal. "Untuk mendukung swasembada daging Nasional tahun 2026, Integrasi Sawit - Sapi adalah unggulan program Dinas Pertanian. Disamping dikenal dengan komoditi sawitnya, kita berharap kedepannya Dharmasraya juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi yang dikelola secara profesional dan terpadu" tandas Darisman, S,Si, MM selaku Kepala Dinas Pertanian saat mengunjungi keberhasilan pola integrasi sapi - sawit beberapa waktu lalu. #banggajadipetani

Share Berita

Komentar Berita